Laman

Jumat, 16 Maret 2012

Spirit of Father

Kekuatan seorang Ayah

Setahun yang lalu dua orang anak usia empat tahun masuk Taman Kanak-kanak. Mereka berada di kelas yang sama. Mereka memiliki kesamaan, sama-sama pendiam. Mereka begitu rendah diri. Dari cara memegang pensil, gunting tampak mereka tidak percaya diri. Mereka bukan tidak bisa mewarnai dengan rapi, bahkan mereka tidak berani mencoret-coret kertas kerja seperti yang sering dilakukan anak-anak lain.

SO masuk halaman sekolah diantar ayahnya. Sebelum lonceng berbunyi, SO akan memegangi ayahnya. Ia memeluk ayah, tidak mau bermain dengan teman-temannya. Sementara semua temannya berlari-lari, bermain di playground, ada juga yang duduk-duduk bersama teman-teman. Begitu juga dengan NV. NV memasuki halaman sekolah sendiri kemudian dia akan duduk di pojok halaman.

Terhadap kedua anak ini saya memberikan semangat dan dorongan. Dengan cara yang khusus, saya mendorong mereka untuk berani. Setiap hari dengan cara bercanda, saya memaksa mereka tersenyum. Ketika mereka ditanya, maka mereka menjawab dengan anggukan kepala atau berbisik. Saya akan mengulang pertanyaan sampai mereka menjawab dengan suara yang terdengar.

SO bersembunyi dibalik kaki ayah karena takut pada saya. Saya membiarkannya, tidak mengodainnya seperti biasa. Tapi suatu hari ketika SO menunggu bel masuk kelas, ia memeluk ayah dengan erat. Tanpa ia sadari, saya langsung menangkapnya, menggendongnya tinggi-tinggi. Di depan ayahnya saya berkata : “Ayo, ini sekolah. Nggak usah sama papa lagi. Kalau di sekolah sama ms. R aja.” SO tertawa, saya senang dengan reaksi tersebut. Ketika saya lepaskan ia lari menuju papanya yang tersenyum melihat kejadian tersebut. Keesokan harinya, saya sedang berbincang-bincang dengan orang tua murid. Dengan sudut pandang mata, saya melihat SO memandang kearah saya dengan wajah agak takut. Papa SO membungkuk dan memegang pundaknya sambil menunjuk kearah saya. Papa SO berkata : “itu Ms.R, ayo kamu beri salam”. SO tampak ragu. Papa nya menepuk bahunya sambil berkata : “ayo nak, beri salam!” SO lari kearah saya dan memberi salam. Walau saya sedang berbincang-bincang, saya menyempatkan diri menyambut salamnya. Seorang ayah telah membantu saya sebagai guru untuk menanamkan kepercayaan diri pada seorang anak kecil pemiliki masa depan.

Bagaimana dengan NV ? sampai saat ini saya masih berjuang untuk menanamkan harga diri padanya. Kemajuannya lambat, saya menyadari karena NV sudah tidak punya seorang ayah. Seorang ayah yang mendukungnya. Betapa sulitnya meningkatkan harga diri seorang anak yang tidak pernah dipuji atau didukung ayahnya.

Dari pengalaman saya sebagai seorang guru, anak-anak yang didukung orang tua terutama ayah akan tumbuh lebih sehat dibandingkan dengan anak tanpa kehadiran ayah. Maka saya menghadirkan guru pria di sekolah yang saya pimpin. Harapan saya agar figure ayah akan hadir bagi anak-anak didik saya, terutama bagi mereka yang tidak punya ayah.

Salam

Ms. R

Statistik membuktikan bahwa orang-orang yang kehilangan kasih sayang dari ayahnya, akan

tumbuh dengan kelainan prilaku, kecenderungan bunuh diri, dan menjadi criminal yang kejam. Sekitar 70% dari penghuni penjara dengan hukuman seumur hidup adalah orang-orang yang bertumbuh tanpa ayah.

Para ayah,

Anda dirindukan dan dibutuhkan oleh anak-anak Anda. Jangan habiskan seluruh energy dan pikiran di tempat kerja, sehingga waktu tiba di rumah para ayah hanya memberikan “sisa-sisa” energy dan duduk menonton TV.

Peluk anak-anak Anda, dengarkan cerita mereka , ajarkan kebenaran dan moral. Dan Anda tidak akan menyesal, karena anak-anak Anda akan hidup sesuai jalan yang Anda ajarkan dan persiapkan.

Ayah yang sukses bukanlah pria paling kaya atau paling tinggi jabatannya di perusahaan atau lembaga pemerintahan, tetapi seorang pria yang anaknya berkata :”Aku mau menjadi seperti ayah” atau “ Aku mau seorang suami yang seperti ayah.” Seorang ayah lebih berharga daripada 100 orang guru di sekolah. (George Herbert)

share from Ms Tinny

dedicated : Mr. Anthony dan Mr. Handy,

thanks ya…. Atas kesediaannya mendidik di TK KALAM KUDUS TKI

Tidak ada komentar: